Kementan Ajak Petani Manfaatkan Biosaka Untuk Hemat Pupuk

Kementan Ajak Petani Manfaatkan Biosaka Untuk Hemat Pupuk
Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi meminta agar seluruh Roulette petani di Indonesia mulai memanfaatkan biosaka. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk.

“Silakan petani berbiosaka. Karena berdasarkan pantauan saya di seluruh Indonesia, petani-petani ini sudah melakukan praktik-praktik dan divideokan, hasil testimoninya gak ada yang mengecewakan,” tutur Suwandi saat membuka acara Gerakan Tanam Padi Terdampak El Nino di Bantul secara virtual, Senin (30/10).

Biosaka menurut Suwandi memiliki beragam manfaat seperti membuat lahan semakin subur, hama penyakit menjadi minimal, bahan yang diperoleh gratis dan tidak diperjualbelikan bahkan biaa dibuat sendiri. Selain itu kata dia, biosaka tidak memberika risiko berbahaya bagi tanaman maupun orang yang melakukan pengaplikasiannya.

“Biosaka bisa hemat pupuk 30%, ada yang 50% sampai 90% dari kebiasaan, produksi juga tetap terjaga,” katanya.

Tak hanya itu, Biosaka diklaim Suwandi mampu menjadikan lahan bekas banjir tetap bagus untuk tanaman. Tanaman cabai yang layu terkena hujan juga bisa tumbuh baik lagi. Tanaman juga dianggap mampu lebih tahan hama penyakit dibandingkan jenis pupuk yang lainnya.

Oleh karena itu, Suwandi pun meminta agar petani yang sudah bisa dan membuktikan penggunaan Biosaka memiliki banyak kelebihan, agar bisa mengajarkan ke petani lain di sekitarnya.

“Petani yang sudah praktik, tolong petani sekitar ditunjukkan. Ini bukan proyek, kalau bisa Biosaka ini pemberdayaan dari petani ke petani,” sebut Suwandi.

Dengan sudah adanya Biosaka, Suwandi mengaku tak ingin lagi ada petani yang mengeluh perihal pupuk, karena sudah ada solusi menggunakan Biosaka.

“Saya nggak mau lagi kalau kunjungan ke daerah, ada petani ngeluh ‘Pak pupuk kurang, Pak pupuk langka, Pak pupuk harganya mahal’. Ini sudah ada ilmu untuk atasi solusi itu. Jadi perubahan perilaku petani mengarah ke sini,” ucapnya.

Kementan Ajak Petani Manfaatkan Biosaka

Berdasarkan laman Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Biosaka merupakan elisitor tanaman budidaya seperti padi, jagung, kedelai, bawang merah, melon, dan banyak lainnya. Biosaka ditemukan sejak 2019 di Blitar dan kini mulai menyebar ke seluruh Indonesia.

Elisitor ini semakin banyak digunakan petani karena bisa mengefisiensi usaha tani (low cost), yang pembuatannya hanya berasal dari rumput atau gulma minimal 5 jenis tanaman yang masing- masing satu genggam tangan.

Si penemu, Muhamad Ansar menjelaskan dalam laman tersebut, tanaman yang dimanfaatkan pada Biosaka lebih banyak memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar sawah atau ladang. Bahkan biasanya tanaman tersebut dianggap tidak berguna bagi petani.

Beberapa jenis tanaman yang biasanya dipakai Babadotan (Ageratum conyzoides L), Tutup Bumi (Elephantopus mollis Kunth), Kitolod (Hippobroma longiflora), Maman Ungu (Cleome rutidosperma), Patikan kebo (Euphorbia hirta L), Meniran (Phyllanthus niruri L), Anting-Anting (Acalypha australis. L), Jelantir (Erigeron sumatrensis Retz), Sembung (Baccharis balsamifera L.), Sembung Rambat (Eupatorium denticulatum Vahl) dan sebagainya.

Cara membuatnya adalah, jenis rumput-rumput tersebut diambil yang bebas penyakit dan hama, atau diambil yang sehat. Kemudian masing-masing diambil segenggam tangan dan diremas dalam 2-5 liter air. Selanjutnya, air hasil remasan tersebut kemudian bisa langsung dimanfaatkan sebagai Biosaka.